Aksi Pagar Nusa Purwakarta di BISA Festival 2023, Inilah Sejarah Pagar Nusa
ANSOR KIARAPEDES - Pagar Nusa, sebagai salah satu organisasi seni bela diri di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), memiliki sejarah yang kaya akan nilai-nilai keagamaan dan semangat perjuangan. Organisasi ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknik silat, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral para pesilatnya.
Awal Mula Berdiri
Pagar Nusa didirikan pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Latar belakang pendirian organisasi ini berawal dari keprihatinan para kiai NU terhadap meredupnya seni bela diri pencak silat di pesantren. Padahal, pencak silat dulunya merupakan bagian integral dari kehidupan pesantren.Pada tanggal 27 September 1985, beberapa ulama dan pendekar pencak silat, termasuk KH Suharbillah dan KH Mustofa Bisri, berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, untuk membentuk wadah yang khusus mengembangkan seni bela diri pencak silat di bawah naungan NU. Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh pencak silat dari berbagai daerah seperti Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, Cirebon, dan Kalimantan.
Setelah melalui berbagai musyawarah, pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, disepakati pembentukan organisasi dengan nama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU), yang kemudian dikenal sebagai Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa. Nama "Pagar Nusa" diusulkan oleh KH Mujib Ridlwan dari Surabaya, yang terinspirasi dari nama "Pagar Nusa" yang berarti pagarnya NU dan bangsa.
Lambang dan Makna Filosofis
![]() |
Lambang Pagar Nusa dirancang oleh KH Suharbillah. Lambang tersebut berbentuk segi lima berwarna dasar hijau dengan bola dunia di dalamnya. Di bagian depan terdapat pita bertuliskan "Laa ghaliba illa billah" yang berarti "tiada yang menang kecuali mendapat pertolongan dari Allah". Lambang ini juga dilengkapi dengan bintang sembilan dan trisula sebagai simbol pencak silat. Kalimat "Laa ghaliba illa billah" merupakan usulan dari KH Sansuri Badawi untuk menggantikan kalimat sebelumnya, "Laa ghaliba ilallah".
Perubahan Status dan Munas
Pada Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya, tahun 1994, Pagar Nusa mengalami perubahan status dari lembaga menjadi badan otonom. Namun, pada Muktamar NU di Lirboyo tahun 1999, status tersebut kembali berubah menjadi lembaga.Pagar Nusa mengadakan Munas I di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo, pada 20-23 September 1991. Munas ini juga menjadi momentum bersejarah karena bertepatan dengan 100 hari wafatnya KH Saifurrizal, sehingga pembukaan acara diawali dengan tahlilan.
Munas II diadakan di Padepokan IPSI Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada 22 Januari 2001. Acara ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Riau, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Munas ini dibuka oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid dan membahas berbagai agenda penting, termasuk organisasi, kepastian, serta teknik dan jurus.
Seragam dan Identitas
![]() |
Pagar Nusa memiliki seragam khusus yang mencerminkan identitas dan kebanggaan anggotanya. Beberapa jenis seragam yang digunakan antara lain:
- Seragam Atlet: Baju dan celana hitam dengan badge IPSI di dada sebelah kanan dan badge Pagar Nusa di dada sebelah kiri, serta sabuk hijau.
- Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putra: Kemeja lengan panjang hitam, celana hitam, sepatu hitam PDH dengan atribut tertentu.
- Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putri: Blazer hitam, jilbab hitam, celana hitam, dan sepatu PDH hitam dengan atribut tertentu.
- Seragam Pengurus: Baju dan celana hitam, jas putih, kopiah hitam, dan sepatu PDH hitam.
- Seragam Tim Khos: Seperti seragam pengurus ditambah dengan simbol khusus.
- Seragam Kebesaran: Jubah hitam yang dipakai pada ajang tingkat nasional.
Tokoh-Tokoh Berpengaruh
![]() |
Beberapa tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pagar Nusa antara lain KH Agus Maksum Jauhari, KH Suharbillah, KH Fuad Anwar, KH Aizuddin Abdurrahman, dan saat ini dipimpin oleh H M. Nabil Haroen. Mereka berperan penting dalam membangun dan mengembangkan Pagar Nusa hingga menjadi salah satu organisasi bela diri terkemuka di Indonesia.
Nilai-Nilai dan Slogan
Pagar Nusa mengusung nilai-nilai keagamaan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Slogan "Laa ghaliba illa billah" yang berarti "tiada yang menang kecuali mendapat pertolongan dari Allah" mencerminkan semangat para pendekar Pagar Nusa yang tidak sombong dan selalu mengandalkan pertolongan Allah. Menurut KH Aizzudin Abdurrahman, slogan ini menggambarkan tingkat kepasrahan tertinggi seseorang kepada Allah SWT, bahwa meskipun seseorang sakti, ia tidak boleh merasa sakti karena segalanya bergantung pada kehendak Allah.Sejarah panjang dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Pagar Nusa menjadikan organisasi ini tidak hanya sebagai wadah pengembangan seni bela diri, tetapi juga sebagai benteng moral dan spiritual bagi para anggotanya. Dengan lambang yang kaya akan makna filosofi dan semangat kebersamaan, Pagar Nusa terus berkontribusi dalam melestarikan seni bela diri pencak silat dan menjaga marwah Nahdlatul Ulama serta bangsa Indonesia.***
Search Keywords: Pagar Nusa,Pencak Silat NU,Sejarah Pagar Nusa,KH Suharbillah,Munas Pagar Nusa,IPS-NU,Seni Bela Diri NU,Organisasi Pencak Silat NU,Lambang Pagar Nusa,KH Agus Maksum Jauhari,

.png)


Posting Komentar untuk "Aksi Pagar Nusa Purwakarta di BISA Festival 2023, Inilah Sejarah Pagar Nusa"